Jeneponto – Jalan poros di Bulu Jaya, Kecamatan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto, berubah menjadi kubangan lumpur panjang setiap kali hujan mengguyur. Akses warga lumpuh, aktivitas ekonomi tersendat, dan keselamatan pengguna jalan terancam.
Di tengah kondisi memprihatinkan itu, warga kini mulai terang-terangan mempertanyakan keseriusan pemerintah desa dalam menangani persoalan yang disebut telah berlangsung bertahun-tahun.
Pantauan di lokasi, Kamis (12/2/2026), memperlihatkan genangan air bercampur lumpur tebal menutup badan jalan.
Bekas roda kendaraan membentuk parit-parit dalam yang membuat sepeda motor kerap tergelincir. Anak-anak sekolah dan lansia menjadi kelompok paling rentan saat melintas di jalur tersebut.
“Setiap tahun hanya janji perbaikan. Tapi setiap hujan, yang kami dapat cuma lumpur dan genangan. Sampai kapan begini?” keluh seorang warga dengan nada kecewa.
Warga mengaku telah berulang kali menyampaikan aspirasi melalui pertemuan lingkungan maupun secara langsung ke aparat desa. Namun hingga kini, belum terlihat langkah konkret yang mampu mengubah kondisi di lapangan. Minimnya respons dan tidak adanya kejelasan waktu perbaikan membuat kekecewaan kian meluas.
Persoalan ini tidak lagi sekadar tentang jalan becek. Bagi warga, ini menyangkut hak dasar atas infrastruktur yang layak dan aman. Jalan desa merupakan urat nadi aktivitas masyarakat—mulai dari akses pendidikan, distribusi hasil pertanian, hingga mobilitas layanan kesehatan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik: apakah infrastruktur jalan ini masuk dalam skala prioritas pembangunan desa? Bagaimana alokasi dan realisasi dana desa selama ini? Apakah sudah transparan dan tepat sasaran?
Sejumlah warga mendesak pemerintah desa untuk membuka data penggunaan anggaran secara terbuka kepada masyarakat. Transparansi dinilai menjadi langkah awal untuk memulihkan kepercayaan publik yang mulai tergerus.
“Kalau memang ada kendala anggaran, sampaikan secara terbuka. Jangan biarkan kami terus bertanya-tanya,” ujar warga lainnya.
Kantor desa sebagai garda terdepan pelayanan publik diharapkan tidak bersikap pasif. Evaluasi menyeluruh, perencanaan yang jelas, dan tindakan nyata menjadi tuntutan yang tak lagi bisa ditunda. Sebab, ketika jalan desa dibiarkan hancur tanpa kepastian, yang rusak bukan hanya infrastruktur—tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahannya sendiri.
Kini, warga Bulu Jaya menunggu bukan sekadar janji, melainkan bukti. Jika keluhan terus diabaikan, sorotan dan kritik publik dipastikan akan semakin keras.
Warga kini melapor ke tim media jurnalinti27.my.id






Posting Komentar