JERITAN DARI JURANG 8 METER! Jembatan Maut Cibodas Sukabumi Makan Korban: Satu Keluarga Nyaris Merenggang Nyawa, Di Mana Pemerintah?!

 






Sukanumi –  Jurnalinti27. Com. 

Horor di atas aliran Sungai Cibodas akhirnya benar-benar menjelma menjadi petaka berdarah. Bertahun-tahun dibiarkan merayap di atas maut, satu keluarga di Kabupaten Sukabumi dilaporkan terjun bebas ke dasar sungai sedalam 8 meter setelah jembatan gantung yang menjadi tumpuan hidup mereka jebol. Tragedi memilukan ini memicu gelombang amarah warga yang kini menagih janji manis penguasa, beritanya Viral di Medsos, hari Minggu, tanggal (17/05/2026). 


​Insiden berdarah yang terjadi pada Jumat malam (15/5/2026) sekitar pukul 20.00 WIB ini seketika memecah kesunyian malam di perbatasan Kecamatan Cidadap dan Kecamatan Curugkembar. Jerit tangis ketakutan pecah di tengah kegelapan saat sebuah keluarga kecil terhempas dari atas Jembatan Gantung Cibodas yang kondisinya sudah menyerupai "pancingan malaikat maut".


​Identity korban langsung terungkap. Nasib nahas tersebut menimpa Yono Sutrisno, seorang guru honorer yang sehari-hari mengabdi di SMPN 2 Cidadap. Malam itu, Yono tidak sendirian; ia sedang membonceng istri tercinta dan kedua buah hatinya yang masih kecil. Akibat hantaman keras ke dasar sungai yang berbatu, Yono mengalami patah tulang kaki yang sangat parah, sementara istri dan kedua anaknya menderita luka-luka di sekujur tubuh serta didera trauma psikologis mendalam yang sulit disembuhkan.


​Kronologi Malam Jahanam: Detik-Detik Satu Keluarga Terhempas ke Dasar Sungai


​Berdasarkan investigasi dan informasi yang berhasil dihimpun di lokasi kejadian, petaka ini bermula ketika guyuran hujan lebat baru saja membasahi wilayah tersebut. Yono yang mengendarai sepeda motor matic Honda Beat, melaju perlahan dari arah Kampung Naringgul, Desa Mekartanjung, Kecamatan Curugkembar. Jantung mereka mungkin berdegup kencang, namun tidak ada pilihan lain. Mereka harus pulang menuju rumah di Kampung Ancaen, Desa Hegarmanah, Kecamatan Sagaranten.


​Satu-satunya jalan pintas tercepat adalah dengan melintasi Jembatan Gantung Cibodas. Namun, kombinasi antara sisa air hujan dan material kayu yang sudah lapuk memicu bencana.


​Ketua Karang Taruna Kecamatan Cidadap, Yandi, membeberkan kronologi mencekam saat motor yang dikendarai sang guru honorer kehilangan kendali.


​"Kondisi jembatan memang sangat licin setelah turun hujan. Saat melintas, motor tiba-tiba tergelincir, lalu jatuh dan tersangkut di celah lantai jembatan yang bolong. Korban sempat terjepit kayu di bagian kaki, menahan beban motor, sebelum akhirnya struktur kayu itu patah total dan melemparkan mereka semua ke bawah," ungkap Yandi dengan nada bergetar.



​Suara hantaman tubuh dan besi motor yang menghantam dasar sungai sedalam 8 meter langsung mengundang kepanikan luar biasa dari warga sekitar yang bergegas melakukan evakuasi darurat di tengah malam buta.


​Fakta Mengerikan Jembatan Cibodas: 17 Tahun Dibiarkan Membusuk!


​Tragedi yang menimpa keluarga Yono bukanlah sebuah kecelakaan biasa, melainkan dampak nyata dari kelalaian struktural yang dibiarkan menahun. Jembatan Gantung Cibodas sebenarnya adalah urat nadi yang sangat vital. Jembatan ini menjadi satu-satunya akses tercepat yang menghubungkan Kampung Cimahi, Desa Banjarsari (Kecamatan Cidadap) dengan Kampung Sindangkerta, Desa Curugkembar (Kecamatan Curugkembar).


​Miris dan sangat memuakkan, berikut adalah bentangan fakta kelam di balik Jembatan Maut Cibodas:


• ​Berusia Lebih dari Tiga Dekade: Jembatan dengan panjang 20 meter dan lebar 1,5 meter ini dibangun sejak 32 tahun yang lalu.


• ​Hampir Dua Dekade Rusak Parah: Warga mengaku telah hidup dalam ketakutan selama 17 tahun terakhir karena jembatan ini mengalami kerusakan parah tanpa pernah disentuh perbaikan permanen oleh pemerintah.


• ​Tali Seling Nyaris Putus: Struktur utama berupa kawat seling baja penahan jembatan sudah berkarat kronis dan beberapa di antaranya dilaporkan telah putus.


• ​Tambal Sulam Swadaya: Selama belasan tahun, warga yang kasihan melihat anak-anak sekolah terpaksa iuran menambal lantai jembatan yang jebol dengan potongan kayu dan bambu seadanya.


​Ekonomi Lumpuh, Anak Sekolah Bertaruh Nyawa Setiap Hari


​Dampak dari pembiaran ini sangat luar biasa merusak. Saban pagi, anak-anak sekolah dasar hingga menengah atas terpaksa berjalan seperti pemain sirkus di atas jembatan yang bergetar hebat ini. Salah melangkah, nyawa taruhannya.


​Tak hanya pendidikan, sektor kesehatan dan ekonomi warga di dua kecamatan kini berada di ambang kelumpuhan total. Sarip dan Salu, tokoh masyarakat setempat, meluapkan amarah dan kekecewaannya yang mendalam. Pasca-kecelakaan ini, warga kini takut untuk melintas.


​"Kalau jembatan ini sampai putus total atau ditutup karena terlalu bahaya, kami harus memutar jauh ke Kecamatan Sagaranten. Jaraknya mencapai puluhan kilometer! Berapa biaya bensin yang harus kami tanggung? Bagaimana kalau ada warga yang sekarat dan harus dibawa ke Puskesmas?" cetus Sarip dengan mata berkaca-kaca.



​Kontrak Kerja di Atas Kertas, Janji Manis Pejabat Menguap Jadi Debu

​Yang membuat dada warga kian sesak adalah kenyataan bahwa usulan perbaikan jembatan ini sudah menumpuk di meja Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Pemerintah Desa Banjarsari dan Desa Curugkembar sudah berulang kali mengirimkan proposal resmi, namun hanya berakhir di tempat sampah birokrasi.


​Bahkan jika menengok ke belakang, pada 16 April 2020, secercah harapan sempat muncul saat Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) mengumumkan tender Detail Engineering Design (DED) Jembatan Cibodas yang dimenangkan oleh PT. Arjasari Primaraya. Namun, kontrak itu tampaknya hanya menjadi pajangan kertas. Hingga tahun 2026 ini, jangankan jembatan beton, satu paku pun tidak pernah ditancapkan oleh pemenang proyek.


​Warga Tagih Janji Politik Gubernur Dedi Mulyadi dan Bupati Asep Japar!


​Kini, setelah darah tumpah di Sungai Cibodas, warga mulai mengungkit kembali video viral yang sempat disiarkan di awal masa jabatan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melalui akun TikTok pribadinya.


​Dalam rekaman yang sempat ditonton jutaan orang tersebut, Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, secara terbuka memohon intervensi dan bantuan langsung dari Gubernur Dedi Mulyadi untuk membenahi infrastruktur di wilayah Sukabumi yang darurat. Pada momen itu, sang Gubernur bahkan sempat melempar pertanyaan retoris yang menyentuh hati tentang keberadaan daerah terisolir di Sukabumi yang anak sekolahnya masih harus menantang maut menyeberangi sungai.


​Jembatan penghubung Kecamatan Cidadap dan Curugkembar ini adalah salah satu poin krusial yang dijanjikan akan segera dibangun. Namun, ke mana janji itu sekarang? Mengapa harus menunggu tubuh seorang guru honorer dan anak-anaknya hancur di dasar jurang baru publik tersadar?


​Warga Sukabumi kini bersatu menyuarakan tuntutan keras: Hentikan retorika politik di media sosial, bangun Jembatan Cibodas secara permanen sekarang juga! Mereka tidak butuh konten, mereka butuh keselamatan. 


Penulis : Ratna

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama